Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam amalan aqiqah adalah penetapan waktu pelaksanaan aqiqah tersebut. Di dalam islam, terdapat bimbingan terkait dengan waktu pelaksanaan aqiqah tersebut.

Penetapan waktunya telah disebutkan dalam hadits Samurah bin Jundub Radhiallahu Anhu, yang mana  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ يومَ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى

“Setiap anak yang baru lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany Rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No.2580).

Berdasarkan keterangan dari hadits tersebut, diketahui bahwa waktu pelaksanaan aqiqah yaitu pada hari ketujuh dari hari kelahiran anak tersebut. Lantas apakah waktunya hanya terbatas pada hari ketujuh? Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan saya sebutkan beberapa fatwa para ulama yang menyebutkan tentang  waktu pelaksanaan aqiqah.

Kumpulan Fatwa Para Ulama Tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah

1.Fatwa Asy-Syaikh Bin Baz Rahimahullah

Asy-Syaikh bin Baz Rahimahullah tentang kapankah waktu pelaksanaan aqiqah? Maka beliau Rahimahullah menjawab sebagai berikut :

الأفضل في اليوم السابع، وإذا ذبح بعد ذلك فلا بأس، لكن الأفضل مثلما قال ﷺ: تذبح عنه يوم سابعه العقيقة، هذا هو الأفضل، تقول عائشة رضي الله عنها: إن فاتت ففي أربعة عشر، فإن فاتت ففي إحدى وعشرين.

ثم لا توقيت لها، ولكن بكل حال بعد السابع لا توقيت لها.

“Yang paling utama adalah pada hari ketujuh. Jika dia menyembelih setelah hari ketujuh maka tidak mengapa. Akan tetapi yang paling utama sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu disembelihkan untuknya hewan aqiqah pada hari ketujuh kelahirannya. Ini yang paling utama. Aisyah Radhiallahu Anha berkata : “Jika luput baginya hari ke-7, maka pada hari ke-14. Jika luput maka pada hari ke-21. Kemudian setelah itu tidak ada pembatasan hari tertentu untuk aqiqah.  Akan tetapi (boleh dikerjakan) pada keadaan apapun setelah hari ketujuh, tidak ada pembatasan hari tertentu.” (Sumber : bit.ly/fatwawaktuaqiqahbinbaz).

2.Fatwa Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan Rahimahullah

Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan Hafizhahullah menyebutkan tentang waktu pelaksanaan aqiqah dalam  salah satu pembahasan beliau tentang aqiqah, di mana beliau berkata :

ووقت ذبح العقيقة ينبغي أن يكون في اليوم السابع من ولادته , ولو ذبحها قبل اليوم السابع أو بعده , جاز

والأفضل أن يسمى في هذا اليوم , ففي ” السنن ” وغيرها : ” يذبح عنه يوم سابعه ويسمى ” , ومن سماه في يوم ولادته , فلا بأس , بل هو عند بعض العلماء أرجح من اليوم السابع

“Waktu penyembelihan aqiqah sepantasnya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Jika dia menyembelihnya sebelum hari ketujuh atau setelahnya maka boleh. Paling utama dia memberikan nama pada hari tersebut. Di sebutkan dalam kitab-kitab sunnah dan selainnya ‘disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dan diberikan nama’. Siapa yang memberikan nama (si kecil) pada hari kelahirannya maka tidak mengapa, bahkan menurut sebagian para ulama itu lebih kuat dibandingkan pada hari ketujuh.” (Sumber : web.facebook.com/MIZZAWIFREE/posts/234087216750186/).

Baca Juga : Syarat-Syarat Aqiqah

3.Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Farkuz Hafizhahullah

Asy-Syaikh Muhammad Farkuz Hafizhahullah ditanya tentang kapankah waktu pelaksanaan aqiqah sesuai syariat? Maka beliau hafizhahullah menjawab sebagai berikut :

فأمَّا عن الوقت الشرعيِّ للنسيكة فإنَّه يومُ السابع بعد الولادة إِنْ تَيَسَّر، ويُحْتَسَبُ يومُ الولادةِ مِن السبع ـ أي: سبعة أيَّامٍ ـ وهو مذهبُ الجمهور، فإِنْ تَعَذَّر وَفَاتَ ففي الرابعَ عَشَرَ، وإلَّا ففي اليوم الحادي والعشرين مِن ولادته، فإِنْ تَعَسَّر ففي أيِّ يومٍ يَقْدِرُ على ذلك، لقوله صلَّى الله عليه وسلَّم في العقيقةِ مِن حديثِ بُرَيْدَةَ الأَسْلَمِيِّ رضي الله عنه: «تُذْبَحُ لِسَبْعٍ وَلِأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَلِإِحْدَى وَعِشْرِينَ»

“Adapun waktu yang ditetapkan syariat untuk pelaksanaan nasikah (aqiqah), maka pada hari ketujuh setelah kelahirannya, jika memang mudah untuk melakukannya (pada hari itu). Dan hari kelahiran anak dianggap (diikutkan) dalam hitungan hari ketujuh, sebagaimana ini merupakan pendapat jumhur ulama. Jika tidak memungkinan dan terlewat (pelaksanaan nasikah hari ke-7), maka pada hari ke-14. Jika tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 dari hari kelahirannya. Jika sulit, maka pada hari apapun yang memungkinkan untuk melakukannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentang aqiqah dari hadits Buraidah Al-Aslamy Radhiallahu Anhu ‘Disembelihkan untuknya pada hari ke-7,hari ke-14, atau hari ke-21.” (Sumber : ferkous.com/home/?q=fatwa-332).

Demikianlah pembahasan tentang waktu pelaksanaan aqiqah dalam syariat islam dan beberapa fatwa para ulama dalam masalah ini. Semoga apa yang disampaikan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *