Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah adalah ritual menyembelih hewan ternak (kambing/domba) yang disembelih pada hari ke 7 kelahiran bayi. Jika waktu pelaksanaan aqiqah lewat hari ke-7 kelahiran, maka harus disembelih pada hari ke-14. Jika tidak, maka dapat dilaksanakan pada hari ke-21 atau dapat pula setelahnya setiap 7 hari berikutnya. Hal ini berdasarkan pendapat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam kitabnya Sabil Al-Muhtadin.

Aqiqah tidak hanya dilakukan bagi bayi yang masih hidup, dapat juga dilakukan Aqiqah bagi bayi yang telah meninggal, baik meninggal dalam kandungan (setelah lebih dari 4 bulan) atau meninggal sebelum dapat hidup pada hari ke-7 kelahirannya, ini dilakukan sebagai tanda syukur kepada ALLAH Subhanahu wa ta’ala karena sudah diberikan kesempatan untuk memiliki anak, walaupun anak yang telah lahir hidupnya tidak lama.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Apakah  Aqiqah Merupakan Tradisi  Daerah

Aqiqah bukanlah sebuah tradisi atau kebiasaan suatu daerah di Indonesia, Aqiqah adalah Ibadah dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga mengAqiqah untuk cucunya sendiri, Hassan dan Husain R.A.

Berdasarkan pendapat yang kuat dalam hukum As-Syafii, Hukum melakukan ibadah Aqiqah adalah SUNNAH MU’AKKAD (yang sangat dianjurkan untuk dilakukan). Jadi sangat rugi sekali apabila sebuah keluarga yang mempunyai kemampuan secara ekonomi, namun tidak melakukan aqiqah atas bayi yang baru lahir.

Pelaksanaan aqiqah ini adalah perintah dari ALLAH Subhanahu wa ta’ala untuk umatnya. Aqiqah juga berguna bagi bayi itu sendiri, karena akan mendapat perlindungan dari segala bahaya. Dan bagi orang tua akan mendapatkan kebaikan dan pahala yang besar.

Untuk pelaksanaannya sendiri, jumlah kambing yang akan di kurbankan dibedakan berdasarkan jenis kelamin sang bayi. Apabila bayinya berjenis kelamin perempuan, maka cukup mengurbankan 1 ekor kambing. Sedangkan bagi bayi laki-laki dapat memotong 2 ekor kambing. Dan untuk jenis kelamin kambing, tidak ada persyaratan tertentu. Jantan dan betina, dapat digunakan untuk aqiqah. Namun paling baik, menggunakan kambing jantan karena lebih padat dagingnya.

Bolehkan Mengakikah Ketika Anak Sudah Besar

Aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua tua yang harus dipenuhi, sampai sang anak baligh. Aqiqah menjadi tanggung jawab wali (orang tua) anak. Ia juga bisa menjadi tanggung jawab kakek, paman, atau wali jika orang tua telah meninggal.

Jika orang tua dari anak tidak mampu untuk melakukan aqiqah karena faktor keuangan atau alasan tertentu, maka pihak lain dapat menerapkan Aqiqah untuk anak tersebut, tetapi harus diinformasikan kepada orang tua si anak.

Mungkin ada yang bertanya, Bolehkan Mengakikah Ketika Anak Sudah Besar?. Apabila sang anak sudah dewasa / baligh, maka status kewajiban orang tua untuk mengaqiqah anak menjadi gugur. Namun apabila ketika dewasa  dan sang anak sudah mempunyai penghasilan sendiri, ia dapat mengakikah dirinya sendiri.  Atau apabila ia sudah menikah, dan suaminya ingin mengadakah aqiqah untuk istrinya, ini juga dibolehkan.

Hikmah dan Manfaat Mengadakan Aqiqah

Ada banyak hikmah yang akan didapat ketika mengadakan aqiqah:

  • Mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga dengan kelahiran bayi.
  • Menyebarkan berita tentang kelahiran anak agar tidak muncul prasangka.
  • Bersyukur atas berkah memiliki anak dari darah daging kita sendiri.
  • Mencegah bayi dari sakit
  • Menghindari anak-anak dari gangguan setan
  • Mampu mendukung pertumbuhan dan kecerdasan pikiran anak
  • Menjalankan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam saat merayakan kelahiran bayi.
    Dalam pelaksanaan aqiqah, hindari praktik sesat yang tidak diajarkan dalam syariat atau yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
  • Apabila diadakan dalam bulan Ramadhan, maka akan dapat pahala ganda, karena dapat pahala memberi makan untuk orang berbuka puasa.

Baca Juga: Secara Bahasa Akikah Berarti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *