Tanggung Jawab Aqiqah Di Pegang Siapa

Tanggung Jawab Aqiqah Di Pegang Siapa, mari lanjut membaca. Kelahiran momongan dalam sebuah keluarga tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Dan biasanya di jaman dulu, mereka akan melaksanakan syukuran terhadap kelahiran bayi. Pelaksanaan syukuran ini mengikuti tradisi daerah masing-masing dan tidak mengikuti syariat islam. Namun beberapa masa belakangan ini, sudah banyak orang yang mulai mengenal kembali aqiqah yaitu bentuk syukuran yang sesuai syariat islam.

Tanggung Jawab Aqiqah Di Pegang Siapa

Pelaksanaan Aqiqah tanggung jawabnya dibebankan kepada ayah dari si bayi. Pelaksanaan Aqiqah sunnahnya dilakukan di hari ke 7 yang dibarengi dengan mencukur rambut bayi, tentu dengan biaya dari  orang tua yang sudah mempunyai kesanggupan. Namun bila orang tua baru memiliki dana di hari ke 30, maka tidak mengapa untuk tetap melakukan aqiqah.
Orang tua bertanggung jawab untuk mengaqiqah anaknya sampai batas anak mencapai usia baligh. Apabila sudah baligh, maka terlepaslah kewajiban orang tua untuk mengaqiqah si anak.

Bolehkah mengakikahi diri sendiri

Bagi orang tua yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mengaqiqah anaknya sewaktu dia kecil. Maka boleh saja bagi anak yang telah dewasa untuk melakukan aqiqah bagi diri sendiri, paling tidak itu akan menjadi sedekah bagi diri sendiri.

Baca Juga:
Hukum Aqiqah Diri Sendiri Setelah Dewasa

Jenis dan jumlah hewan aqiqah

Bagaimanakah jenis hewan dan jumlahnya untuk aqiqah.

Berdasarkan Hadist dari ummu kuzim al kabiyah RA, Beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. bersabda, “ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda untuk bayi laki-laki maka aqiqah nya adalah 2 kambing yang sekufu / semisal, dan untuk bayi perempuan seekor kambing. Di riwayat yang lain menambahkan “ tidak masalah baik hewan aqiqah itu jenis kelaminnya jantan atau pun betina” hadis ini disahihkan tirmidzi, alhakim dan ibnu hiban.

Berdasarkan dari hadis ini, di nyatakan bahwa bukan hanya bayi laki laki saja yang di aqiqahi, bayi perempuan pun disyariatkan untuk diaqiqah. Dan hewan aqiqah itu bentuknya kambing, baik untuk bayi laki laki dan bayi perempuan. Hadist ini juga menunjukkan terdapat perbedaan jumlah yang disembelih untuk mengaqiqahi bayi laki-laki dan bayi perempuan. Dalam pelaksanaan aqiqah 2 ekor kambing, nabi juga mensyaratkan untuk memberikan kambing yang sekufu.

Sekufu yang bagaimanakah?
Kata Imam Ahmad, Sekufu disini artinya ke 2 kambing tersebut sama persis atau kurang lebih sama, seperti; sama persis besarnya, sama persis usianya, bila yang satu kambing biasa maka yang lain juga kambing biasa, tidak boleh memotong 1 domba dan 1 kambing, kalo tidak bisa sama persis maka imam ahmad mengatakan “kurang lebih sama” seperti usia sudah sama, sama-sama  kambing biasa, gemuknya agak sedikit berbeda maka itu tidak mengapa.

Apakah orang tua akan di tanya, bila tidak mengaqiqahi anaknya.

Aqiqah ini sendiri hukum pelaksanaannya adalah sunah, jadi kalo tidak melakukan apalagi karena alasan tidak mempunyai dana, maka tidak akan menjadi dosa bagi orang tua. Aqiqah menjadi bab syukur dalam agama islam, sebagai bentuk syukur karena sudah diberi anak oleh Allah.
Namun perlu diingat pelaksanaan aqiqah adalah sunnah bagi yang mampu. Dan bila ada orang tua yang mempunyai kemampuan ekonomi dan tidak melakukan aqiqah, ini bisa menjadi bentuk ketidak bersyukuran kepada ALLAH.

Walaupun aqiqiah adalah sunnah yang sangat di anjurkan, namun jangan sampai diabaikan (bagi yang mampu), karena tanda rindu kepada kemuliaan adalah biarpun itu sunnah akan tetap diamalkan. Pelaksanaan aqiqah adalah menyembelih 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan 1 ekor kembing untuk bayi perempuan. Ketentuan ini sudah di atur ALLAH melalui lisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *