Prosesi Aqiqah Bayi

Prosesi Aqiqah Bayi- Berkaitan dengan syariat menyembelih hewan aqiqah dan menggundul kepala bayi. Manakah yang perlu didahulukan dan manakah yang sebaiknya dibelakangkan.

Urutan dalam prosesi aqiqah bayi.

Yang dianjurkan pertama kali adalah menyembelih hewan aqiqah, setelah hewan disembelih, baru kepala bayi digunduli. Setelah kepala bayi digunduli, baru diolesi dengan minyak wangi. Dan sesi terakhir, rambut yang d cukur, dikumpulkan dan ditimbang dengan seberat perak dan dijadikan uang serta disedekahkan ke orang miskin.

Hal diatas adalah urutan ideal, apabila urutannnya terbolak balik karena tidak tahu, maka tidak mengapa. Hal diatas adalah urutan ideal yang sangat dianjurkan namun bukan sebuah keharusan.

Baca Juga:
Perbedaan Aqiqah dan Qurban

Prosesi Aqiqah Bayi Mencukur Rambut di hari ke 7 Kelahiran Bayi

Mencukur Rambut di hari ke 7 Kelahiran Bayi

Bagi bayi yang baru lahir. Adalah sebuah etika ketika di hari ke 7 disembelihkan untuknya . Kalo ia laki-laki maka disembelih dua ekor kambing,  kalo ia perempuan disembelih 1 ekor kambing. Kemudian bayi diberi nama dan digundul, jadi bukan potong rambut saja ya, harus digundul.
Dan secara medis pun, ternyata mengunduli rambut bayi mempunyai banyak manfaat. Karena rambut bayi di dalam kandungan dianggap “kotor”. Membuang rambut tersebut tentu akan menjaga kebersihan kepala dan membuatnya tumbuh lebih sehat.

Namun untuk bayi perempuan, para ulama masih silang pendapat, apakah menggundul untuk bayi perempuan.

Terkait dengan rambut yang di cukur, ada hadist dari Nabi Muhammad, bahwa seseorang itu bersedekah perak, sebanyak timbangan dari rambut tersebut. Apabila setelah rambutnya ditimbang  dan beratnya satu gram perak, maka ia bersedekah dengan berat  1 gram perak tersebut. Kalo ia punya perak, bersedekah dalam perak. Kalo tidak punya, maka bisa mengetahui dulu harga perak berapa, dan mengkonversikannya ke dalam bentuk rupiah.

 

Kambing Bertanduk Patah, Boleh Disembelih.. ?

Kambing memiliki 2 tanduk, bagaimana kalo salah satu atau keduanya terpotong atau pecah. Para ulama mengatakan sah hukumnya berkurban dengan hewan yang tanduknya panjang sebelah atau patah kedua duanya. Hanya saja didalam Mahzab Maliki mengatakan makhruh jika berkurban dengan kambing yang tanduknya patah, yang ketika akan disembelih darahnya masih mengalir di area patahan. Sehingga bagi para penyembelih diharapkan untuk berhati hati ketika meletakkan kambing dengan sesama hewan kambing yang bertanduk, karena bila diletakkan berdekatan, dan mereka saling menyerang dengan tanduknya, maka akan dikhawatirkan terjadi luka di daerah tanduk atau tanduknya menjadi patah, malah bisa lepas tanduknya. Padahal hari itu kambing tersebut akan disembelih. Maka menurut Mahzab Maliki, penyembelihannya Sah namun makruh. Dan sebaiknya kejadian seperti ini dapat dihindari.

Namun jika kejadian patah tanduk sudah terjadi beberapa bulan / tahun yang lalu, maka hukumnya boleh disembelih. Mengapa, karena patahnya tanduk tidak mengurangi esensi dari berkurban. Yakni banyaknya daging yang dimiliki oleh hewan tersebut.

Karena pada hakikatnya, hewan yang patah tanduknya itu tidak memiliki badan yang kurus, dan dagingnya tetap baik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *