Pengertian Aqiqah

Salah satu  amalan yang disyariatkan di dalam islam terkait kelahiran seorang anak adalah melakukan aqiqah. Hukum amalan ini diperselisihkan oleh para ulama antara wajib dan sunnahnya. Terlepas dari perselisihan hukumnya, tentu tidak pantas bagi orang tua untuk menelantarkan amalan aqiqah jika memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Tapi apakah arti kata aqiqah itu sendiri? Ini merupakan pertanyaan penting yang membutuhkan jawaban. Sebab, rasanya kurang tepat bagi seorang muslim yang akan melakukan aqiqah untuk anaknya, namun tidak mengetahui pengertian aqiqah itu sendiri.

Pengertian Aqiqah Secara Bahasa dan Istilah

Pengertian aqiqah akan bisa dipahami dengan baik, jika kita memperhatikan pengertian dari segi bahasa dan istilah. Perlu diketahui bahwa aqiqah secara bahasa (etimologi) berasal dari kata Al-‘Aqqu. Sedangkan asal penggunaan kata Al-‘Aqqu bemakna Asy-Syaqqu (Merobek) dan Al-Qath’u (Memotong/memutuskan).  Contoh penggunaan dalam bahasa arab, misalnya kalimat ‘Aqqa Al-Barqu yang artinya ‘Petir itu terputus’.

Contoh lainnya adalah kata ‘Uquuqul Waalidaini yang artinya durhaka kepada kedua orang tua. Kata ‘Uquuqul (durhaka),merupakan bentuk mashdar dari ‘Aqqa Ya’uqqu. Kedurhakaan disebut dengan kata ‘Uquuqul, karena saat seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya, pada hakikatnya dia hubungan yang baik dan harmonis di antara mereka terputus dan robek.

Agar lebih memahami pengertian aqiqah, tentu harus diketahui pengertiannya dari sisi istilah (terminologi) atau syariat. Perlu diketahui bahwa secara istilah, aqiqah adalah apa yang disembelih untuk (kelahiran) anak ketika dicukur rambutnya sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah.

Dari pengertian aqiqah di atas, diketahui bahwa aqiqah merupakan sebuah amalan berupa sembelihan kambing atau domba yang sudah memenuhi kriteria, yang mana penyembelihan tersebut sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan berupa hadirnya seorang anak yang merupakan pelipur lara bagi kedua orang tuanya.

Hukum Penamaan Aqiqah

Untuk melengkapi pembahasan kita tentang pengertian aqiqah, sebaiknya kita tidak melewatkan pembahasan tentang hukum penamaan aqiqah. Oleh karena itu, di bawah ini akan  saya sebutkan secara singkat penjelasan  tentang hal tersebut, yang merupakan kesimpulan dari apa yang disampaikan oleh salah seorang ulama yang bernama Asy-Syaikh Muhammad Farkuz Hafizhahullah tentang hal ini.

Perlu diketahui bahwa sebagian para ulama tidak menyukai penamaan aqiqah (Mereka lebih menyukai penamaan nasikah dibandingkan aqiqah) karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membenci Al ‘Uquuq (kedurhakaan). Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sebagian hadits, ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang aqiqah, maka beliau menjawab “Saya tidak menyukai Al ‘Uquuq (kedurhakaan)”.  Para ulama tersebut lebih memilih penamaan nasikah.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bolehnya penamaan aqiqah dan itu bukanlah hal yang makruh karena adanya lafazh aqiqah dalam banyak hadits, di antaranya sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam :

مع الغلام عقيقته، فأهرقوا عنه دما، وأميطوا عنه الأذى

“Bersama anak yang baru lahir ada aqiqahnya, maka alirkan darah untuknya (sembelihkan) dan hilangkan gangguan darinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar [1236] dan Al-Hakim [4/238]).

Demikian pula penamaan aqiqah disebutkan dalam hadits yang lain, yaitu sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى يومَ

“Setiap anak yang baru lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Selain penamaan aqiqah, penamaan nasikah juga datang dalam banyak hadits, di antaranya adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam :

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ

“Barangsiapa yang dilahirkan seorang anak untuknya, kemudian dia suka untuk melaksanakan nasikah, maka hendaknya dia melakukan nasikah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud [2842], An-Nasai [4212], dan yang lainnya.)

Pendapat yang paling kuat di antara kedua pendapat tersebut yaitu bahwa penamaan yang paling utama adalah nasikah dikarenakan kekhawatiran akan ditinggalkannya penamaan ini (nasikah),dan juga disebabkan penamaan aqiqah terdapat kesan kedurhakaan. Sehingga, menggunakan penamaan aqiqah menyelisihi yang paling utama.

Kesimpulannya boleh menggunakan nama aqiqah, tetapi dengan syarat tidak boleh meninggalkan penggunaan nama nasikah. Oleh karena itu, penggunaan nama aqiqah secara mutlak merupakan hal yang diperbolehkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *