Pembahasan Seputar Rukun Aqiqah

Pembahasan tentang rukun aqiqah tidak lepas dari pentingnya melakukan ibadah aqiqah dalam syariat islam. Saat seorang bayi lahir ke dunia, merupakan tanggung jawab ayahnya untuk melaksanakan aqiqah tersebut. Jika ayahnya telah tiada, misalnya ayahnya meninggal saat anak berada di dalam kandungan, maka tanggungjawab beralih ke ibunya.

Karena aqiqah adalah amalan yang mulia di dalam islam dan merupakan wujud kesyukuran atas nikmat lahirnya anak, tidak sepantasnya orang tua menyepelekannya. Bahkan, Al-Imam Ahmad Rahimahullah sampai menganjurkan untuk berutang dalam rangka menunaikan aqiqah. (Lihat Kitab Asy-Syarh Al-Mumti’ Karya Al-Utsaimin Rahimahullah [3/405].

Apakah Dipersyaratkan Kemampuan Dalam Melaksanakan Aqiqah?

Sebagian orang memasukkan kemampuan dalam rukun aqiqah. Padahal kenyataannya kemampuan bukanlah termasuk rukun. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah menjelaskan apakah disunnahkan adanya kemampuan dalam melaksanakan sunnah aqiqah? Simak penjelasan beliau :

إذا كانت الواجبات الشرعية يشترط فيها القدرة فالمستحبات من باب أولى، فالفقير لا نقول له: اذهب واقترض، لكن إذا كان الإنسان لا يجد الآن، إلا أنه في أمل الوجود كموظف ولد له ولد في نصف الشهر، وراتبه على قدر حاجته فهو الآن ليس عنده دراهم، لكن في آخر الشهر سيجد الدراهم، فهل نقول: اقترض ثمن العقيقة واشتر به حتى يأتيك الراتب، أو نقول: انتظر حتى يأتيك الراتب؟ الثاني أحسن؛ لأنه يحصل به إبراء الذمة

“Jika ibadah-ibadah yang sifatnya wajib dalam syariat dipersyaratkan padanya adanya kemampuan, maka pada ibadah-ibadah sunnah tentu lebih utama lagi. Maka untuk orang miskin, tidak mungkin kita katakan kepadanya ‘pergilah dan berutanglah’. Akan tetapi jika dia tidak mampu melakukannya sekarang akan tetapi dia memiliki kemampuan di waktu mendatang. Misalnya, seorang pegawai yang memperoleh kelahiran anak di pertengahan bulan dan gajinya bisa menutupi kebutuhan, namun dia tidak memiliki biaya sekarang, namun di akhir bulan nanti dia bisa mendapatkan biaya, maka apakah kita katakan kepadanya ‘Berutanglah untuk biaya aqiqah dan belilah kebutuhan aqiqah sampai kamu memperoleh gaji.’ Ataukah kita katakan kepadanya ‘Tunggulah sampai kamu memperoleh gaji.’ Kalimat kedua tentu lebih baik, karena dia bisa membayar utangnya…” (Lihat Kitab Asy-Syarh Al-Mumti’ Karya Al-Utsaimin Rahimahullah [3/406].

Hal-Hal yang Disyariatkan Untuk Dilakukan Saat Aqiqah

Saat melaksanakan aqiqah, ada hal-hal yang disyariatkan untuk dilakukan, yaitu :

1.Menyembelih Kambing Aqiqah

Menyembelih kambing aqiqah merupakan rukun aqiqah itu sendiri. Artinya, tidak ada yang namanya aqiqah kalau tidak menyembelih kambing atau domba. Usia kambing tersebut haruslah genap setahun, sedangkan usia domba haruslah genap 6 bulan.

Tidak ada ketentuan dalam syariat bahwa kambing atau domba tersebut harus jantan dan tidak bisa betina. Yang dipersyaratkan hanyalah terkait usia hewan aqiqah yang sudah kita sebutkan di atas. Selain itu, dipersyaratkan hewan aqiqah tersebut berupa kambing atau domba, tidak bisa onta, sapi, ayam dan semisalnya.

Dipersyaratkan pula hewan aqiqah bebas dari cacat yang jelas, seperti picak yang jelas, pincang yang jelas, serta kurus tidak bersumsum. Jika kondisi sakitnya lebih parah, misalnya matanya tidak picak tapi buta, kakinya tidak pincang tapi lumpuh sama sekali, maka tentu lebih tidak boleh lagi.

Tapi ngat, syarat-syarat yang disebutkan di atas bukanlah rukun aqiqah, tapi syarat-syarat terkait hewan aqiqah. Bedakanlah kedua hal tersebut.

2.Mencukur Rambut Bayi dan Bersedekah Perak Seberat Timbangan Rambutnya

Disyariatkan untuk mencukur rambut bayi saat diaqiqah. Hal ini bukanlah rukun aqiqah sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi hanya sunnah. Setelah itu, disyariatkan baginya untuk menimbang hasil cukuran rambut tadi dan menyedekahkan perak seberat timbangannya.

Asy-Syaikh Al-Utsamin Rahimahullah berkata :

وينبغي في اليوم السابع حلق رأس الغلام الذكر، ويتصدق بوزنه ورِقاً أي: فضة، وهذا إذا أمكن بأن يوجد حلاق يمكنه أن يحلق رأس الصبي، فإن لم يوجد وأراد الإنسان أن يتصدق بما يقارب وزن شعر الرأس فأرجو ألاَّ يكون به بأس

“Sepantasnya untuk mencukur rambut bayi laki-laki pada hari ketujuh dari kelahirannya dan menyedekahkannya setimbang dengan perak. Ini jika memungkinkan untuk menemukan tukang cukur yang bisa mencukur rambut bayi. Jika tidak didapatkan dan seseorang ingin bersedekah setimbang  rambut bayi, maka saya berharap hal itu tidak mengapa.” (Lihat Kitab Asy-Syarh Al-Mumti’ Karya Al-Utsaimin Rahimahullah [3/408].

3.Memberikan Nama

Memberikan nama kepada si bayi bukanlah merupakan rukun aqiqah, hanya disyariatkan. Waktu pemberian nama bisa dilakukan pada hari ketujuh dan bisa juga pada hari kelahirannya. Hal ini sebagaimana yang datang dalam sebagian hadits. 

Nama-nama yang diberikan hendaknya nama-nama yang mengandung doa dan kebaikan, tidak mengandung tazkiyyah atau rekomendasi terhadap siri sendiri. Disebutkan dalam sebagian hadits bahwa sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *