Pembahasan Seputar Niat Aqiqah

Pembahasan tentang niat aqiqah tidak lepas dari pembahasan pentingnya niat dalam setiap amalan yang dilakukan. Sebab, amalan apapun tentu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah dan amalan tersebut sesuai tuntunan syariat, bukan berdasarkan hawa nafsu.

Dalam bahasa arab, niat bermakna al-qashdu (maksud). Jadi maksud seseorang terhadap sesuatu maka itulah niat. Oleh karena itu, niat tempatnya di dalam hati, karena maksud berasal dari hati. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya..” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Perlu diperhatikan bahwa kalimat ‘sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya’ bermakna bahwa tidaklah ada amalan kecuali pasti ada niatnya. Inilah yang telah diterangkan oleh para ulama. Jadi bukan maknanya bahwa nanti niat teranggap ada saat dilafazhkan atau disebutkan. Ini keliru, karena itu bukanlah niat tetapi التلفظ بالنية  (melafazhkan niat). Adapun niat adalah apa yang terbetik di dalam hati seseorang atau apa yang dimaksudkannya.

Oleh karena itu, saat seseorang hendak beramal misalnya sholat, tidaklah dia berangkat ke masjid kecuali dia sudah meniatkan sholat. Sebab apa yang mendorongnya ke masjid setelah mendengarkan adzan kalau bukan niat?

Tidak mungkin ada orang bisa beraktifitas kecuali didorong oleh niat atau maksud, kecuali orang gila atau menggigau dalam tidurnya. Oleh karena itulah para ulama mengatakan :

لو كلفنا الله عملا بلا نية لكان من تكليف ما لا يطاق

“Seandainya Allah membebani kita dengan amalan tanpa niat, niscaya hal tersebut termasuk pembebanan yang tidak mampu dipikul”

Adapun kalimat ‘bagi setiap orang apa yang diniatkannya’ maknanya bahwa diterima tidaknya amalan tersebut tergantung dengan niatnya. Jika ikhlas karena Allah, akan diterima. Sebaliknya jika tidak, akan tertolak.

Penjelasan Detail Seputar Niat Aqiqah

Dari penjelasan di atas, tentu sudah dipahami bahwa niat aqiqah yang dituntut dalam syariat adalah apa yang terbetik atau dimaksudkan dengan hati, tidak harus terlafazhkah. Siapa yang mewajibkan melafazhkan niat saat menyembelih hewan aqiqah, maka dia telah berbicara atas nama agama Allah tanpa ilmu.       

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan saya sebutkan fatwa Asy-Syaikh bin Baz Rahimahullah dalam permasalahan ini. Beliau Rahimahullah pernah ditanya :

رزقت بثلاث بنات وذبحت لكل بنت شاة حين ولادتها ولكن لم أقل هذه عقيقة للبنت حيث كنت لا أعلم أن العقيقة واجبة، سؤالي: هل تجزئ هذه الذبائح عن العقيقة ولو كنت أعلم أن العقيقة واجبة لقلت حين ذبحها: هذه عقيقة البنت؟

لجواب: النية كافية ولا حاجة إلى أن تقول عقيقة، النية كافية والعقيقة سنة وليست واجبة، فأنت بحمد الله قد أديت السنة والحمد لله، والنية كافية في هذا إذا نوى بالذبيحة عن ابنته أو الذبيحتين عن ولده الذكر كفى ذلك وإن لم يتلفظ بشيء وإن قال: هذه عن ولدي فلان أو عن بنتي فلانة فلا بأس كالضحية

“Soal : Saya diberikan rezki berupa tiga orang anak perempuan dan saya sudah menyembelihkan untuk setiap orang dari mereka masing-masing satu ekor kambing ketika mereka lahir. Akan tetapi saya tidak mengucapkan ‘ini adalah aqiqah dari anak perempuanku’ karena (waktu itu) saya tidak tahu bahwa aqiqah hukumnya wajib. Pertanyaanku : Apakah sah sembelihan aqiqah tersebut?. Seandainya saya mengetahui bahwa aqiqah itu wajib, niscaya saya akan mengucapkan ketika menyembelihnya ‘ini adalah aqiqah anak perempuanku’.

Jawab : Niat saja sudah cukup dan tidak butuh untuk mengucapkan kata ‘aqiqah’. Niat saja sudah cukup dan aqiqah hukumnya sunnah, bukan wajib. Alhamdulillah Anda sudah menunaikan sunnah, dan niat sudah cukup dalam hal ini. Jika dia meniatkan satu ekor sembelihan dari putrinya atau dua ekor sembelihan dari putranya, maka hal itu sudah cukup meskipun dia tidak melafazhkan/mengucapkan apapun. Jika dia melafazhkan/mengucapkan ‘ini sembelihan dari putraku si faulan atau putriku si fulanah’Maka tidak mengapa karena sama seperti sembelihan qurban.” (Sumber : bit.ly/niataqiqah).

Demikianlah pembahasan seputar niat aqiqah pada artikel kali ini. Semoga apa yang disampaikan bisa menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *