Hukum Tasyakuran Aqiqah Dalam Islam

Tasyakuran aqiqah umumnya dilakukan pada hari dipotongnya sembelihan aqiqah dan diberikannya nama bagi si kecil, yaitu  pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Jika tidak mampu dilakukan pada hari ke-7, maka boleh dilaksanakan pada hari ke-14, ke-21, serta hari-hari lainnya.

Tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah dilakukan sebagai wujud kebahagiaan dan kegembiraan akan lahirnya si kecil dan bergabungnya dia di tengah-tengah keluarga. Pada saat itu, dihadirkan makanan yang merupakan olahan dari sembelihan aqiqah maupun menu tambahan lainnya.

Saat ini masih terdapat keraguan pada sebagian orang terkait dengan acara tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah tersebut. Sebagian dari mereka beranggapan kalau hal tersebut menyelisihi syariat karena tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Lantas bagaimanakah sebenarnya pandangan islam terkait dengan tasyakuran aqiqah? Untuk mengetahui jawabannya, simak kelanjutan ulasan di bawah ini.

Baca Juga : Pengertian Aqiqah

Detail Pembahasan Tentang Tasyakuran Aqiqah

Para ulama menyebutkan bahwa tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah jika dilakukan karena berkeyakinan atau beranggapan kalau hal tersebut merupakan sunnah, maka hal itu merupakan bentuk mengada-adakan atas nama agama Allah sesuatu yang bukan bagian darinya. Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan karena adanya ancaman dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam :

مَن أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هذا ما ليسَ فِيهِ، فَهو رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru dalam urusan kami ini (agama), yang bukan bagian darinya maka hal itu tertolak (tidak diterima).” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [2697], Muslim [1718]).

Sebab, menetapkan sebuah amalan sebagai sebuah ibadah tidak diperbolehkan kecuali berdasarkan dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Adapun yang termasuk ibadah adalah amalan aqiqah, sedangkan acara walimatul aqiqah atau tasyakuran aqiqah bukan merupakan ibadah.

Oleh karena itu, para ulama hanya memperbolehkan tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah dilakukan sebagai bentuk luapan kebahagiaan dan kegembiraan, bukan karena beranggapan kalau hal itu adalah ibadah atau sunnah.

Asy-Syaikh bin Baz Rahimahullah ketika ditanyakan manakah yang lebih utama antara mengadakan walimah (perayaan) aqiqah atau membagikan saja daging sembelihan aqiqah tersebut? Maka beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di dalam hal ini terdapat keluasan, di mana seseorang bisa memilih ini dan itu. Sebab, tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang membatasi masalah aqiqah pada hal-hal tertentu, sehingga terdapat keluasan di dalamnya. (Untuk lebih lengkapnya, lihat : bit.ly/walimatulaqiqah).

Demikian pula Al-Lajnah Ad-Daimah ketika ditanyakan tentang hal ini, maka mereka menjawab bahwa hal tersebut boleh dilakukan selama meyakininya sebatas luapan kebahagiaan dan kegembiraan saja, bukan karena beranggapan hal tersebut adalah sunnah. Sebab, jika beranggapan hal tersebut merupakan sunnah, maka sudah termasuk mengada-ada atas nama agama Allah yang bukan bagian darinya. (Untuk lebih lengkapnya, lihat : al-maktaba.org/book/1708/1840).

Tapi tentu saja tidak semua ulama sepakat akan bolehnya tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah. Faktanya, terdapat sebagian ulama yang menegaskan kalau hal tersebut makruh atau tidak disenangi untuk dilakukan. Di antara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah Al-Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah, sebagaimana yang disebukan dalam kitab At-Tamhid.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah menyebutkan bahwa memasak daging sembelihan aqiqah dan membagikannya kepada orang-orang miskin lebih utama daripada memanggil mereka datang ke rumahnya. Demikian pula yang disebutkan dalam kitab Al-Fawakih Ad-Dany akan makruhnya mengadakan walimatul aqiqah dan memanggil orang-orang ke walimah tersebut. Penyebab dibencinya karena perbuatan tersebut menyelisihi apa yang dilakukan oleh para salah, dan juga dikhawatirkan munculnya sikap berbangga dan bermegah-megahan. (untuk lebih lengkapnya, lihat : bit.ly/hukumwalimahaqiqah).

Dari kedua pendapat di atas, penulis lebih condong kepada pendapat pertama, yaitu bolehnya melakukan tasyakuran aqiqah atau walimatul aqiqah, selama hal tersebut hanya merupakan luapan kebahagiaan dan kegembiraan, bukan karena beranggapan hal tersebut merupakan ibadah atau sunnah.

Hanya saja alasan yang dikemukakan oleh sebagian ulama yang menganggapnya makruh, yaitu dikhawatirkan munculnya sikap berbangga dan bermegah-megahan, hal ini penting untuk diperhatikan. Sebab, sikap berbangga dan bermegah-megahan merupakan hal yang tercela di dalam islam. Apalagi jika sampai menghabiskan biaya yang berlebihan jumlahnya hanya untuk hal-hal yang seperti ini. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *