Hukum Melaksanakan Aqiqah Diri Sendiri dan Orang Tua

Bagaimana ya Hukum Melaksanakan Aqiqah? Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang diajarkan Islam ketika menyambut kelahiran bayi. Di dalamnya terkandung ajakan untuk bersyukur sekaligus doa.

Pada pelaksanaanya tidak semua orang melaksanan aqiqah. Syarat menyembelih hewan berkaki empat yang lumayan harganya menjadi kendala sendiri. Sementara beberapa pasangan orang tua tidak memahami aqiqah secara mendalam.

Hukum Melaksanakan Aqiqah, Sudah Aqiqah atau Belum? 

Sudah Aqiqah atau Belum? Fenomena Ketidaktahuan : Sebelum berbicara tentang aqiqah, hukum, dan pelaksanannya ada baiknya Anda bertanya pada diri sendiri? Sudah aqiqah atau belum?

Kebanyakan orang dewasa mungkin tidak mengetahui jawabannya. Aqiqah merupakan bagian dari kehidupan yang dianggap tidak perlu ditanyakan. Orang tua juga tidak pernah menyampaikan perihal tersebut kepada anaknya.

Apalagi beberapa puluh tahun yang lalu, akses tentang pengetahuan keislaman sangat terbatas. Sangat sulit mencari jawaban atas sesuatu yang tidak diketahui.

Pengorbanan Orang Tua dan Keterbatasannya

Pengorbanan Orang Tua dan Keterbatasannya : Menjadi orang tua memang tidak mudah. Seseorang harus siap secara fisik, mental, finansial. Bukan bermaksud mengajak Anda tidak menikah atau menolak keturunan. Dalam Islam menikah adalah sebagian dari agama.

Paling tidak, setiap pasangan orang tua menyadari semua hal di atas dan berusaha untuk melaksanakan sesuai kemampuan. Pada dasarnya tidak ada satu pun manusia di dunia yang sempurna. Di sini, pengorbanan orang tua sangat dibutuhkan anak. 

Contoh pengorbanan yang diberikan orang tua adalah waktu. Seseorang yang sudah memiliki anak akan lebih banyak memberikan waktunya untuk buah hati. Bangun di malam hari saat mereka sakit dan mengurangi waktu istirahat.

Begitu pula dengan pengorbanan finansial. Dengan keterbatasan dana yang dimiliki, orang tua akan mendahulukan kepentingan anaknya.

Perintah Aqiqah dan Keterbatasan Orang Tua

Perintah Aqiqah dan Keterbatasan Orang Tua : Hukum melaksanakan aqiqah adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Pelaksanaannya adalah dengan menyembelih hewan berkaki empat. Dua ekor untuk anak laki-laki dan satu bagi anak perempuan. Di Indonesia umat muslim menyembelih kambing untuk aqiqah. Waktu pelaksanaan aqiqah yang terbaik adalah pada hari ketujuh kelahiran bayi. Jika belum dapat dilaksanakan, beberapa ulama sepakat dapat dlaksanakan pada hari ke-14 dan ke-21.

Perintah pelaksanaan aqiqah tercantum dalam hadist.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan Tirmidizi)

Dalam pelaksanaannya, tidak semua orang tua mempunyai kemampuan menyelenggarakan aqiqah. Membeli kambing, memotong, hingga mengolahnya butuh biaya yang tidak sedikit.

Bagaimana jika orang tua tidak mampu? Tidak ada kewajiban melaksanakan aqiqah. Keterbatasan orang tua dalam finansial menggugurkan kewajiban pelaksanaan aqiqah untuk anaknya.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Quran surat Al Baqaqah ayat 286.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 

Baca Juga : Adakah Ayat Alquran Tentang Aqiqah?

Hukum Mengaqiqahkan Diri Sendiri dan Orang Tua

Hukum Mengaqiqahkan Diri Sendiri dan Orang Tua : Bolehkah seseorang yang belum diaqiqah pada masa kecil meng-aqiqahkan diri sendiri? Para ulama mempunyai pendapat berbeda dalam menjawabnya.

Berdasarkan Mahzab Maliki dan riwayat Imam Ahmad, tidak ada dalil shahih yang menunjukkan seseorang boleh meng-aqiqahkan dirinya sendiri. Sebagian lain membolehkan seseorang meng-aqiqahkan dirinya sendiri ketika dewasa.

Menurut Imam Syafi’i, jika aqiqah itu tidak dilakukan oleh orang tua sampai akil baligh, pelaksanaannya tidak lagi disunnahkan. Namun, jika anak mempunyai kemampuan dan ingin meng-aqiqah diri sendiri dibolehkan.

Dalil yang digunakan untuk membolehkan anak aqiqah untuk diri sendiri setelah dewasa adalah HR. Baihaqi, Thabrani, dan Al Bazzar. Dalam hadist diriwayatkan Nabi Saw mengaqiqahkan diri sendiri setelah diutus sebagai nabi.

Melaksanakan aqiqah untuk orang tua juga dibolehkan sebagaimana seseorang memberi sedekah atas nama orang lain. Pahalanya akan mengalir kepada orang yang disebutkan.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi ﷺ:

     عن عائشة رضي الله عنها: أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم إن أمي افتلتت نفسها وأظنها لو تكلمت تصدقت فهل لها أجر إن تصدقت عنها قال نعم

Dari Aisyah radliallahu anha yang ada seorang pria-laki-laki, mengatakan kepada Nabi ﷺ: “Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku yakin bahwa dia akan berbicara dengannya akan bersedekah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)? “. Jawabnya: “Ya, benar”. (Shahih Bukhari bab Jana’iz no. 1299).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *