Hukum Berkurban Sebelum Aqiqah

Sebelum saya membahas tentang hukum berkurban sebelum aqiqah, perlu dijelaskan masing-masing dari kedua amalan tersebut. Setelah mengetahui keduanya dengan jelas, barulah pembahasannya bisa dipahami dengan baik.

Perlu diketahui bahwa berkurban dan aqiqah merupakan amalan yang sama-sama dilaksanakan dengan cara menyembelih hewan. Dalam bahasa arab, berkurban disebut الأضحية (al-udhiyyah) sedangkan aqiqah disebut العقيقة (al-aqiiqah) atau النسيكة (an-nasiikah). Keduanya merupakan amalan yang berbeda di dalam islam.

Kedua amalan tersebut (al-udhiyyah atau al-aqiiqah) sama-sama dilakukan dengan cara menyembelih. Bedanya, al-udhiyyah dilakukan dengan cara menyembelih sapi, onta, atau kambing, sedangkan al-aqiiqah hanya bisa dilakukan dengan cara menyembelih kambing atau domba, tidak bisa dengan menyembelih onta atau sapi.

Dari segi waktu pelaksanaan, berkurban dan aqiqah juga memiliki perbedaan. Ibadah kurban hanya bisa dilakukan selepas sholat id pada hari idhul adha atau tanggal 10 dzulhijjah dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 dzulhijjah). Adapun aqiqahpaling utama dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahiran si bayi dan bisa juga pada hari-hari lainnya.

Penjelasan Hukum Berkurban Sebelum Aqiqah

Seringkali terlontar pertanyaan dari sebagian kaum muslimin tentang bagaimanakah hukum berkurban sebelum aqiqah? Apakah hal tersebut diperbolehkan atau tidak? Dan pertanyaan semisalnya.

Setelah membaca pendahuluan yang disebutkan di atas, tentu pembaca sudah bisa memahami bahwa kedua amalan tersebut (berkurban dan aqiqah) berbeda. Sehingga tidak ada kaitannya sama sekali mana yang lebih dahulu. Artinya, seseorang bisa berkurban sebelum melakukan aqiqah atau setelah melakukan aqiqah.

Oleh karena itu, pertanyaan bagaimanakah hukum berkurban sebelum aqiqah kurang tepat. Pertanyaan yang tepat adalah bagaimanakah hukum menggabungkan ibadah kurban dengan aqiqah, jika kebetulan waktu untuk aqiqah bertepatan dengan waktu untuk menyembelih kurban.

Untuk mengetahui jawabannya, pastikan pembaca tetap menyimak kelanjutan ulasan di bawah ini.

Baca Juga : Hukum Aqiqah

Hukum Menggabungkan Ibadah Kurban dengan Aqiqah Dalam Satu Niat

Terkait hukum menggabungkan antara ibadah kurban dengan aqiqah dalam satu niat, telah terjadi khilaf atau beda pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini. Sebagian menganggapnya sah dan sebagian lainnya menganggap tidak sah. Untuk lebih jelasnya, akan saya uraikan di bawah ini :

1.Tidak Sah Menggabungkan Antara Ibadah Kurban dengan Aqiqah Dalam satu Niat

Pendapat tidak sahnya penggabungan kedua amalan tersebut dalam satu niat dipegang oleh para fuqaha dari madzhab Al-Malikiyyah, Asy-Syafi’iyyah, dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad bin Hambal Rahimahumullah. 

Hujjah yang dipegang oleh pendapat ini bahwa kedua amalan tersebut (berkurban dan aqiqah) merupakan amalan yang memiliki maksud yang berbeda atau tersendiri, salah satunya tidak bisa menggantikan yang lain. Sama halnya dengan darah tamattu’ yang tidak bisa digantikan dengan darah fidyah.

Al-Imam Al-Haitsamy Rahimahullah berkata :

وَظَاهِرُ كَلَامِ الْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ

.”Yang nampak dari ucapan para ulama madzhab Syafi’iyyah bahwa jika dia meniatkan seekor kambing untuk sembelihan kurban dan sembelihan aqiqah, maka tidak sah salah satu dari keduanya. Ini yang nampak, karena keduanya merupakan sunnah dengan maksud tersendiri.” (Lihat Kitab Tuhfatul Muhtaaj Syarh Al-Minhaaj [9/371]).

2.Sahnya Menggabungkan Antara Ibadah Kurban dengan Aqiqah Dalam satu Niat

Pendapat sahnya penggabungan kedua amalan tersebut dalam satu niat dipegang oleh para fuqaha dari madzhab Hanafiyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipegang oleh Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan Qotadah, Rahimahumullah.  

Hujjah yang dipegang oleh pendapat ini bahwa kedua amalan tersebut (berkurban dan aqiqah) merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dengan cara menyembelih,sehingga salah satu dari keduanya bisa digabungkan dengan yang lainnya.

Para ulama tersebut mencontohkan seperti orang yang datang ke masjid di waktu subuh dan mendapati imam sudah mulai melaksanakan sholat subuh. Maka dia langsung melaksanakan sholat subuh 2 rakaat sekaligus meniatkan sholat tahiyyatul masjid yang memang disyariatkan untuk dilakukan bagi orang yang baru masuk ke dalam masjid.

Al-Buhuty Rahimahullah berkata :

وَإِنْ اتَّفَقَ وَقْتُ عَقِيقَةٍ وَأُضْحِيَّةٍ ، بِأَنْ يَكُونَ السَّابِعُ أَوْ نَحْوُهُ مِنْ أَيَّامِ النَّحْرِ ، فَعَقَّ أَجْزَأَ عَنْ أُضْحِيَّةٍ ، أَوْ ضَحَّى أَجْزَأَ عَنْ الْأُخْرَى

“Jika bertepatan waktu aqiqah dengan waktu berkurban, misalnya bertepatan dengan hari ketujuh (kelahiran anak) atau semisalnya dari hari-hari menyembelih, kemudian dia menyembelih aqiqah, maka hal itu sudah sah (mencukupi) untuk sembelihan kurban. Atau dia menyembelih untuk kurban, maka hal itu sudah sah (mencukupi) untuk sembelihan aqiqah.” (Lihat Kitab Syarh Muntahaa Al-Iradaat [1/617]).

Dari kedua pendapat ini, penulis lebih condong menguatkan pendapat bahwa kedua amalan tersebut tidak bisa digabungkan, karena merupakan amalan dengan tujuan dan maksud tersendiri. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah dan Asy-Syaikh Muhammad Farkuz Hafizhahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *