Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Melaksanakan aqiqah merupakan salah satu syariat yang dianjurkan bagi orang tua untuk anaknya, berupa 1 ekor kambing atau domba untuk anak perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki. Tidak ada bedanya antara jenis jantan dan betina dalam masalah ini.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ يومَ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى

“Setiap bayi yang baru lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ke-7 (kelahirannya), dicukur, serta diberikan nama.” (Shahih Sunan Ibnu Majah No.2580).

Penetapan waktu aqiqah pada hari ketujuh dalam hadits di atas bukanlah pembatasan atau menunjukkan waktu wajib, tetapi hanya menunjukkan waktu utama. Artinya, sangat dianjurkan bagi orang tua untuk mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh kelahirannya jika dia memiliki kemampuan untuk itu. Jika tidak mampu, maka boleh menundanya sampai memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Baca Juga : Hukum Tasyakuran Aqiqah Dalam Islam

Fatwa Ulama Seputar Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum aqiqah setelah dewasa. Sebagian ulama berpendapat sah dan sebagian lainnya berpendapat tidak sah. Untuk lebih jelasnya, simak detail ulasan di bawah ini :

1.Pendapat Pertama : Tidak Bisa

Pendapat pertama menyebutkan bahwa tidak sah aqiqah setelah dewasa. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah, di mana beliau berkata :

 وإن لم يعق أصلا , فبلغ الغلام , وكسب , فلا عقيقة

“Jika dia sama sekali tidak diaqiqah, kemudian baligh (dewasa) dan sudah bekerja, maka tidak ada aqiqah baginya.” (Lihat Kitab Al-Mughni Karya Ibnu Qudamah Rahimahullah [9/364]).    

Asy-Syaikh Sholah Al-Fauzan Rahimahullah juga ditanya tentang hukum aqiqah setelah dewasa, maka beliau menganggap tidak sahnya hal tersebut.

Dalam sebuah tanya jawab, beliau Hafizhahullah pernah ditanya sebagai berikut :

“Penanya : Kapankah luput waktu aqiqah. Artinya jika saya tidak mengaqiqahi anak saya hingga dia baligh (dewasa), bolehkah saya mengaqiqahinya sekarang.

Jawab Syaikh : Tidak, setelah baligh tidak. Setelah baligh sudah luput waktunya (waktu aqiqah). Waktunya adalah sebelum baligh. Jika dia mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh maka itu lebih utama.” (Lihat : https://www.youtube.com/watch?v=iCEr7tC8bcc)

 2.Pendapat Kedua : Sah

Pendapat kedua menyebutkan bolehnya atau sahnya aqiqah setelah dewasa. Hal ini ditegaskan oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, di mana beliau berkata :

العقيقة سنة مؤكدة, وهي ذبيحتان عن الرجل وذبيحة واحدة عن الأنثى، كما أمر النبي ﷺ أن يعق عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة

ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين.

وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس، كله حسن -إن شاء الله-.

وليس له وقت محدود ولو بعد سنة أو سنتين, ولو كان كبيراً، لكن السنة أن يعق الأب عن ولده في يوم السابع، هذا هو السنة.

 “Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, yaitu 2 sembelihan untuk anak laki-laki dan 1 sembelihan untuk anak perempuan. Sebagaimana perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyembelih 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 ekor untuk anak perempuan.

Waktunya adalah pada hari ketujuh dan ini lebih utama. Jika dia menyembelih setelah itu maka tidak mengapa, meskipun setelah 1 tahun atau 2 tahun. Jika ayahnya tidak mengaqiqahinya dan dia ingin mengaqiqahi dirinya sendiri, maka ini bagus.

Aqiqah disyariatkan dilakukan oleh ayah, akan tetapi jika dia mengaqiqahi dirinya sendiri, atau ibunya dan saudaranya mengaqiqahinya, maka tidak mengapa, semuanya bagus.

Aqiqah tidak memiliki waktu tertentu, meskipun setelah 1 tahun atau 2 tahun, meskipun sudah dewasa. Akan tetapi yang sunnah adalah seorang ayah mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh, ini yang sunnah.” (Lihat : https://bit.ly/aqiqahsetelahdewasa).

Asy-Syaikh Muhammad Farkuz Hafizhahullah pernah ditanya tentang waktu nasikah (aqiqah) yang sesuai syariat. Maka beliau Hafizhahullah menjawab sebagaimana berikut : “Waktu yang syar’i untuk nasikah yaitu hari ketujuh dari hari kelahirannya jika mudah untuk melakukannya….Jika luput, maka pada hari ke-14, jika tidak maka pada hari ke-21 dari hari kelahirannya. Jika memungkinkan, maka pada hari apa saja yang dia mampu melakukannya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ALaihi Wasallam tentang aqiqah, dari haditsnya Buraidah Al-Aslamy Radhiallahu Anhu ‘Disembelihkan untuknya pada hari ke-7, hari ke-14,dan hari ke-21.’ Tatkala hukum nasikah merupakan sunnah yang wajib bagi orang tua menurut pendapat yang paling shohih, maka kewajiban tersebut tetap berada dalam tanggung jawabnya sebagai utang yang harus ditunaikannya kapanpun dia mampu melakukannya.” (Lihat : (https://www.youtube.com/watch?v=Pj1bJx1Sxto)

Dari kedua pendapat para ulama di atas tentang hukum aqiqah setelah dewasa, penulis lebih condong kepada pendapat kedua yang menyebutkan bolehnya mengaqiqahi anak setelah dewasa, atau anak mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *