Hukum Aqiqah Dalam Pandangan Islam

Sebelum saya mulai membahas hukum aqiqah atau nasikah di dalam islam, saya hanya ingin mengingatkan bahwa tatkala seorang anak terlahir ke dunia ini, orang tua disyariatkan untuk melakukan ibadah nasikah atau aqiqah bagi anak tersebut. Ini merupakan ibadah yang mulia di dalam islam, sehingga tidak sepantasnya orang tua menelantarkannya, terutama jika dia memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ يومَ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى

“Setiap anak yang baru lahir MURTAHANUN (tergadaikan) dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah Rahimahullah, dan Al-Imam Al-Albany Rahimahullah menshahihkannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No.2580).

Dalil tentang disyariatkannya aqiqah atau nasikah tentu tidak terbatas pada hadits di atas saja, namun masih ada dalil-dalil lainnya. Semua dalil-dalil yang ada menunjukkan disyariatkannya ibadah aqiqah di dalam islam.

Penjelasan Detail Tentang Hukum Aqiqah

Terkait dengan hukum aqiqah, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hal tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat, yaitu :

1.Hukumnya Sunnah

Sunnahnya hukum aqiqah dipegang oleh jumhur ulama dari kalangan ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah. Ini juga merupakan pendapat yang terkenal dari kalangan ulama Hanbaliyyah. Selain para ulama madzahab di atas, sunnahnya hukum aqiqah juga dipegang oleh sekelompok ulama lainnya seperti Al-Imam Abu Tsaur, Al-Imam Ibnul Qoyyim, Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Al-Utsaimin, dan beberapa ulama lainnya.

Di antara dalil yang dijadikan hujjah dan pegangan para ulama di atas adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang berbunyi :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ يومَ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى

“Setiap anak yang baru lahir MURTAHANUN (tergadaikan) dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah Rahimahullah, dan Al-Imam Al-Albany Rahimahullah menshahihkannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No.2580).

Para ulama di atas menyebutkan bahwa di dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menggandengkan antara menyembelih dengan mencukur rambut serta memberikan nama. Sedangkan amalan mencukur dan memberikan nama bagi bayi baru lahir hukumnya sunnah, sehingga disimpulkan kalau hukum aqiqah adalah sunnah.

Demikian pula disebutkan dalam  hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang lain, di mana beliau bersabda :

من وُلِدَ لهُ ولدٌ فأحبَّ أن يَنسُكَ عنهُ فلينسُكْ عنِ الغلامِ شاتانِ مكافِئتانِ وعنِ الجاريةِ شاةٌ

“Barangsiapa yang dilahirkan seorang anak untuknya dan dia suka untuk menyembelihkan bagi anak tersebut, maka hendaknya dia menyembelih dua ekor kambing yang setara untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah  dalam Shahih Sunan Abu Daud No.2842 menganggap derajatnya hasan).

Sisi pendalilan dalam hadits di atas  yaitu ucapan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “fa ahabba (dia suka)”, yang menunjukkan adanya pilihan bagi siapa yang mau. Adanya pilihan menunjukkan kalau hukum aqiqah adalah sunnah.

2.Hukumnya Wajib

Wajibnya hukum aqiqah dipegang oleh sekelompok para ulama lainnya, semisal Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, Al-Laits Ibnu Sa’ad, serta para ulama dari madzhab zhohiryyah.  Di antara dalil yang dipegang oleh para ulama tersebut adalah hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, yang mana beliau bersabda :

مع الغلامِ عَقيقةٌ، فأَهْريقوا عنه دَمًا، وأَمِيطوا عنه الأذَى

“Bersama dengan anak baru lahir ada aqiqahnya, maka alirkanlah darah untuknya (sembelihkan) dan singkirkan gangguan darinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Haditsnya dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah).

Menurut para ulama di atas, sisi pendalilan yang menunjukkan wajibnya hukum aqiqah dari hadits di atas adalah kalimat perintah “fa ahriiquu anhu daman (maka alirkanlah darah untuknya)”. Dalam sebuah kaedah disebutkan bahwa asal kalimat perintah bermakna wajib.

Selain pendapat wajib dan sunnahnya aqiqah, masih ada pendapat yang ketiga dan keempat. Pendapat ketiga menyebutkan makruhnya aqiqah dan ini dipegang oleh madzhab Hanafiyyah, sedangkan pendapat keempat menyebutkan terhapusnya hukum aqiqah dan ini dipegang oleh Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani.

Dari semua pendapat mengenai hukum aqiqah di atas, yang paling kuat adalah pendapat sunnahnya aqiqah, sedangkan yang paling lemah adalah pendapat makruh dan terhapusnya aqiqah. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *