Bolehkah Qurban Tapi Belum Aqiqah?

Sebelum masuk ke dalam pembahasan bolehkah qurban tapi belum aqiqah? kiranya penting untuk dijelaskan terlebih dahulu persamaan dan perbedaan antara ibadah qurban dan ibadah aqiqah. Jika hal ini sudah dipahami dengan baik, tentu penjelasan lebih lanjut akan semakin mudah untuk dimengerti.

Ibadah qurban dalam bahasa arab disebut dengan الأضحية (al-udhiyyah), sedangkan aqiqah disebut العقيقة (al-aqiiqah) atau النسيكة (an-nasiikah). Dari segi penamaan, tentu terlihat adanya perbedaan di antara keduanya.

Persamaan dan Perbedaan Ibadah Qurban dan Aqiqah

Perlu diketahui bahwa sisi persamaan antara ibadah qurban dan aqiqah terletak pada tata cara pelaksanaannya, yaitu sama-sama dilakukan dengan cara menyembelih. Hanya saja, terjadi perbedaan dari jenis hewan yang disembelih dan waktu pelaksanaannya.

Untuk ibadah qurban, jenis hewan yang disembelih adalah onta, sapi, atau kambing. Adapun jenis hewan yang disembelih untuk aqiqah hanya kambing atau domba. Hanya saja, khusus untuk qurban jenis kambing dan domba memiliki persyaratan usia yang sama dengan kambing atau domba untuk aqiqah, yaitu sama-sama harus genap berusia 1 tahun untuk kambing dan genap berusia 6 bulan untuk domba.

Perbedaan berikutnya terlihat pada waktu pelaksanaannya. Untuk ibadah qurban, hanya bisa dilakukan pada tanggal 10 dzulhijjah (hari idhul adha) setelah sholat id dan tiga hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 dzulhijjah). Sedangkan aqiqah bisa dilakukan kapan saja, meskipun lebih utama jika dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Baca Juga : Hukum Qurban Tapi Belum Aqiqah

Penjelasan Detail Bolehkah Qurban Tapi Belum Aqiqah?

Setelah membaca ulasan di atas, tentu sudah tergambar bagi Anda kalau ibadah qurban dan ibadah aqiqah memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Sehingga, kedua amalan tersebut tidak bisa dianggap sama.

Oleh karena itu, pertanyaan ‘bolehkah qurban tapi belum aqiqah?’ merupakan pertanyaan yang kurang tepat, karena perbedaan dari kedua amalan tersebut. Pertanyaan yang paling tepat sebenarnya adalah apakah kedua amalan tersebut bisa digabungkan dalam satu niat atau tidak?

Untuk menjawabnya, maka pada kelanjutan artikel di bawah ini saya akan mengulas tentang perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam permasalahan ini.

Perlu diketahui bahwa telah terjadi khilaf atau perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait boleh tidaknya menggabungkan amalan qurban dengan aqiqah dalam satu niat. Setidaknya dalam permasalahan ini ada dua pendapat, yaitu :

1. Tidak Sah Menggabungkan Keduanya

Pendapat yang menyebutkan bahwa penggabungan kedua amalan tersebut (ibadah qurban dan ibadah aqiqah) dalam satu niat tidaklah sah dan tidak diperbolehkan merupakan pendapat yang dipilih oleh para ulama ahli fikih dari madzhab Al-Malikiyyah, Asy-Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad bin Hambal Rahimahumullah. 

Para ulama tersebut di atas menyebutkan bahwa kedua amalan tersebut (ibadah qurban dan ibadah aqiqah) merupakan amalan dengan maksud dan tujuan yang berbeda, sehingga salah satunya tidak bisa menggantikan yang lain.

Al-Imam Al-Haitsamy Rahimahullah dalam Kitab Tuhfatul Muhtaaj Syarh Al-Minhaaj jilid 9 halaman 371 menegaskan bahwa para ulama dari madzhab Syafi’iyyah menyebutkan tidak sahnya salah satu dari kedua amalan tersebut  jika keduanya digabungkan dalam satu niat. Artinya, hanya bisa dilakukan secara tersendiri dan tidak bisa digabungkan.

2. Sah Menggabungkan Keduanya

Pendapat yang menyebutkan bahwa penggabungan kedua amalan tersebut (ibadah qurban dan ibadah aqiqah) dalam satu niat adalah sah dandiperb olehkan merupakan pendapat yang dipilih oleh para ulama ahli fikih dari madzhab Hanafiyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.

Selain itu, pendapat ini juga dipegang oleh Al-Hasan Al-Bashri, Qotadah, serta Muhammad bin Sirin Rahimahumullah. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahullah juga menguatkan pendapat ini.

Para ulama tersebut di atas menyebutkan bahwa kedua amalan tersebut (ibadah qurban dan ibadah aqiqah) merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah yang sama-sama dilakukan dengan cara menyembelih,sehingga bisa digabungkan. Hal ini sebagaimana bolehnya menggabungkan  sholat subuh 2 rakaat dengan sholat tahiyyatul masjid 2 rakaat dalam satu niat.

Al-Imam Al-Buhuty Rahimahullah dalam Kitab Syarh Muntahaa Al-Iradaat jilid 1 halaman 617 menyebutkan kalau sembelihan qurban yang dilakukan bertepatan pada hari ketujuh kelahiran bayi sudah mencukupi (bisa digabungkan dalam satu niat) untuk sembelihan aqiqah, begitu pula sebaliknya.

Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama, yaitu tidak sah menggabungkan keduanya karena perbedaan maksud dan tujuan dari kedua ibadah tersebut. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh

Dari kedua pendapat ini, penulis lebih condong menguatkan pendapat bahwa kedua amalan tersebut tidak bisa digabungkan, karena merupakan amalan dengan tujuan dan maksud tersendiri. Pendapat ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah, di mana beliau berkata :

لا يجوز الجمع بين نية الأضحية والعقيقة في شاة واحدة خلافاً لابن القيم وكذلك لا يجوز الجمع بين نية الأضحية والوليمة

“Tidak boleh menggabungkan antara niat sembelihan qurban dengan aqiqah pada seekor kambing, berbeda dengan pendapat Ibnul Qayuim. Demikian pula tidak boleh menggabungkan antara niat sembelihan qurban dan pernikahan.” (Lihat : twitter.com/alshykhaan/status/1159414540737634305).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *