Aqiqah Untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Bolehkah, Aqiqah Untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia.? Aqiqah adalah syariat yang sangat dianjurkan dalam islam. Setiap anak laki-laki itu tergadaikan dengan aqiqahnya. Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby, salah seorang murid Syaikh Albani rahimahullah ta’ala, pernah ditanya tentang hukum orang yang mengaqiqahi anak yang meninggal di usia 8 hari.
Maka beliau menjawab bahwa, kalau seandainya anak itu meninggal di usia kurang dari 7 hari, maka tidak ada kewajiban untuk mengaqiqahi anak itu.

Aqiqah
Aqiqah Untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Mengapa Tidak Ada Aqiqah Bila Usia Kurang 7 hari?

Karena Nabi Shallallhu ‘alaihi wassalam membatasi bahwa aqiqah itu pada hari yang ke tujuh.
Jadi disyariatkan aqiqah kalau si bayi sudah berusia 7 hari. Berarti apabila usia bayi kurang dari 2 hari tidak ada perintah untuk aqiqah. Yang ada perintah untuk sabar, bersabar kalau seandainya ada yang anaknya meninggal di saat masih bayi. Dengan bersabar itulah serta ridho dengan takdir ALLAH Azza wa jalla, boleh jadi anak itu akan menjadi syafaat bagi kita pada hari kiamat.

Tapi kalau seandainya bayinya meninggal setelah 7 hari, maksudnya hari ke 8 atau hari ke 9 dan seterusnya. Maka karena dalam aqiqah itu ada sifat tausi’ah, artinyamemberi makan fuqara (fakir) wa masakin (dan miskin). Artinya memberikan bantuan kepada orang-orang susah dengan cara memberi makan kepada mereka.
Maka bila tidak sanggup aqiqah di hari ke 7, dia dapat mengqadha di hari lainnya. Entah di hari ke-14 atau 21 atau kapanpun anda mampu untuk melakukannya, karena aqiqah itu terkait dengan kemampuan.

Kalo tidak mampu ya tidak wajib, kalau mampu maka silahkan untuk melaksanakan aqiqah..

Mengapa demikian, karena aqiqah itu ada kaitannya dengan akhirat.

Nabi Shallahu’alaiwassalam berkata: bahwa setiap bayi yang dilahirkan itu tergadaikan dengan aqiqahnya.

Apa yang dmaksud dengan tergadaikan disini?
Maksudnya tergadaikan syafaatnya, dengan  syafaat orang tuanya.

Kriteria Hewan Yang Layak Dijadikan Aqiqah

Adapun kriteria hewan yang layak dijadikan hewan aqiqah adalah merupakan hewan yang  sehat dan tidak ada kecatatan permanen di salah satu anggota tubuhnya. Bagaimana dengan ciri-ciri fisik kambingnya.

Berikut adalah ciri – ciri fisik kambing yang layak dijadikan aqiqah:

  1. Tidak buta
  2. Tidak pincang kakinya
  3. Tidak hilang sebagain besar tanduk dan kupingnya
  4. Tidak ompong semua giginya\
  5. Serta memilki tubuh yang sehat dan tidak terlihat kurus

Bolehkah Aqiqah Dengan Kambing Betina

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor Gibas yang berwarna putih, bertanduk, gemuk, dan istimewa (berharga). Gibas adalah domba jantan. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha berqurban dengan hewan qurban terbaik sebagaimana qurban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya dengan memberikan hewan qurban jantan.

Hewan jantan umumnya lebih besar dan lebih mahal (berharga) sehingga lebih bagus dari yang betina. Tapi, bolehkah berqurban dengan hewan kurban betina, misalnya kambing betina? Para ulama telah menjelaskan perkara ini, bahkan sampai keluar ijma’ terkait hal ini. Yaitu:

Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan kurban, sehingaa boleh berkurban dengan hewan jantan maupun betina. Dalilnya hadis dari Umu Kurzin ra: Rasulullah Shallallhu’alaihi wassalam berkata:  “Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak jadi masalah jantan maupun betina.” (HR Ahmad An Nasa’i dan disahihkan Syaikh Al-Albani)

Namun apabila anda mempunyai kemampuan untuk membeli hewan jantan, sebaiknya tidak berkurban dengan betina. Mengingat hewan jantan umunya  lebih mahal dan lebih bagus dari betina. Sementara kita disyariatkan agar memilih hewan  sebaik mungkin untuk berkurban, sehingga dapat mendapatkan pahalanya lebih besar.

Hal ini, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 32 yang artinya:  “Siapa yang mengagungkan syiar ALLAH, maka itu menunjukkan ketakwaan hati”

Ibnu Abbas ra juga mengatakan  dalam Tafsir Ibnu Katsir 5/421 “ Mengagungkan syiar ALLAH dalam bentuk berkurban adalah dengan mencari yang paling gemuk dan paling bagus”

Baca Juga:  Sejarah Aqiqah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *