Aqiqah Sunnah Kelahiran Bayi

Aqiqah Sunnah Kelahiran Bayi. Apa saja sunnah yang harus kita lakukan, ketika mendengar sebuah kelahiran bayi. Apabila anda mendengar teman atau saudara anda melahirkan seorang bayi, maka yang sangat dianjurkan pertama kali dilakukan adalah mendoakan orang yang melahirkan dengan ucapan keberkahan. Memang tidak ada lafad yang bisa dikatakan secara shohih / kuat secara sanad dari Rasulullah. Yang jelas intinya kita memberikan doa keberkahan supaya ALLAH memberkahi orang tua dan anak mereka yang baru lahir. Dan supaya ALLAH menjadikan bayi tersebut menjadi anak yang Sholeh / Sholehah.

Aqiqah
Sumber: cemplangcemplung.blogspot.co.id

Yang kedua adalah masalah tahnik. Jadi kalo baru lahir, maka bayi itu harus di tahnik. Apa itu taknik, tahknik yaitu sebuah prosesi memasukkan kurma yang telah dilembutkan dan disimpan di dalam langit-langit mulut bayi. Karena disebutkan dalam satu riwayat bahwa ketika Asma melahirkan, bayinya kemudian dibawa kepada Rasulullah, kemudian Rasul mentahniknya.
Namun apakah kita boleh membawa ke ustad. Dalam riwayat hadist, itu dikatakan bahwa itu khusus Rasul saja. Dan yang lebih baik yang mengtahnik tentu adalah orang tua bayi itu sendiri.

Aqiqah Sebagai Sunnah Kelahiran Bayi 

Sunnah yang paling penting dan utama dalam menyambut kelahiran adalah melaksanakan Aqiqah. Di hari yang ke tujuh Nabi menganjurkan untuk melaksanakan aqiqah. Dalam hadist riwayat yang shahih, Nabi Muhammad mengatakan untuk melaksanakan aqiqah pada hari yang ke tujuh bagi orang tua yang mampu.
Nah, apakah kata “hari ke tujuh” itu adalah sebuah batasan, misal kalo sudah lebih hari ke tujuh sudah tidak boleh lagi. Atau hari ke tujuh itu hanya sebatas “hari yang paling utama”.
Pendapat ulama yang paling utama mengatakan bahwa yang dimaksud hari ke 7 adalah hari yang paling utama. Jadi paling utama itu mengerjakan aqiqah di hari yang ke tujuh setelah bayi lahir.
Nah kalo misal di hari yang ketujuh itu, orang tuanya belum mampu, dan hanya mampu dihari ke 14 atau hari 21 dan selanjutnya. Maka Imam Syafii Rahimahullah mengatakan, hari ke tujuh itu bukan batasan, maka boleh di aqiqahkan walaupun dia sudah besar.

Waktu Mencukur Rambut Bayi

Dalam aqiqah juga terdapat prosesi mencukur rambut bayi. Waktu mencukur rambut bayi yang sesuai sunnah adalah mencukur rambut dilakukan di hari ke tujuh setelah kelahiran. Hal ini berdasarkan hadist dari Salman Bin Amir Ad-Dhabbi, yang mana Rasulullah bersabda yang artinya “Setiap anak ada aqiqahnya, sembelihlah aqiqah untuknya dan buang kotoran darinya” (HR Bukhori 5471).
Dalam hadis lain dari Samurah, Rasulullah juga bersabda yang artinya “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih di hari ke tujuh, diberi nama dan dicukur kepalanya (HR. Nasai, Abu Daud, Turmudzi) dan dishahihkan Al Bani. Ibnu Abdil Bar juga menjelaskan bahwa makna ‘ Buang kotoran dari bayi’ adalah mencukur rambutnya (Al-istidzkar, 5/315).

Dalam ensiklopedi fikih dinyatakan, mayoritas ulama yaitu malikiyah, syafi’iyah dan hambali. Berpendapat bahwa dianjurkan mencukur kepala bayi pada hari ketujuh dan bersedekah, seberat rambut berupa emas atau perak menurut Malikiyah atau Syafi’iyah, dan berupa perak saja menurut Hambali.
Jika tidak dicukur maka beratnya dapat dikira-kira, dan disedekahkan dengan perak seberat itu.
Mencukur rambut dilakukan setelah menyembelih kambing aqiqah. (Al Mausu’ah Al-fiqhiyah Al-kuwaitiyah, 18/96).

 

Bolehkan Memakan Kambing Aqiqah Anak Sendiri

Ada beberapa pertanyaan seputar boleh atau tidak mengkonsumsi daging aqiqah anak sendiri. Untuk lebih jelasakan mari kita baca beberapa penjelasan di bawah ini.
Boleh atau tidak, jawabannya boleh ikut memakan.

Dibolehkan bagi orang tua untuk memakan sebagian dari aqiqah anaknya dengan beberapa alasan:.
1. Secara prinsip aturan aqiqah sama dengan aturan qurban.
Ibnu qudamah mengatakan, aturan aqiqah terkait jatah boleh dimakan, dihadiahkan, disedekahkan sama seperti aturan qurban. Dan ini merupakan pendapat dari As-Syafi’i.
kemudian beliau menyebutkan khilaf ulama dalam masalah ini, lalu beliau menyimpulkan yang lebih mendekati, aqiqah diqiyaskan dengan berqurban. Karena ini ibadah yang disyariatkan dan tidak wajib seperti qurban. Karena sama dengan qurban terkait sifatnya sunnah-sunnahnya , ukurannya dan syaratnya. Sehingga dalam aturan penyalurannya juga disamakan (al-mughni 11/120).
Dan dalam aturan ibadah qurban, sohibul qurban dibolehkan untuk memakan sebagian daging qurbannya. Sebagaimana dinyatakan dalam firman ALLAH “Makanlah dari sebagaian qurban itu dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan’ (QS. Al-Haj: 26)

2. Terdapat keterangan dari ‘Aisyah RA terkait aqiqah.
Aqiqah yang sesuai sunnah, untuk anak lelaki 2 kambing, anak perempuan seekor kambing. Dimasak utuh tulangnya, tidak dipecah tulangnya, dimakan sendiri diberikan ke orang lain dan disedekahkan.
Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa maksud tidak dipecah tulangnya adalah dalam rangka membangun sikap optimis (At-tafaul), terhadap keselamatan anak dan tidak mengalami kecelakaan badannya. Beliau juga menegaskan, meskipun saya tidak menjumpai dalil yang menenangkan dalam hal ini (as-syarh al-Mumthi, 7/499).
Sehingga berdasarkan keterangan di atas, makan daging aqiqah sendiri atau aqiqah anaknya, hukumnya diperbolehkan untuk dikonsumsi.

 

Baca Juga:
Hukum Aqiqah Ketika Anak Sudah Dewasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *