Aqiqah Dengan Daging Mentah atau Matang

Aqiqah Dengan Daging Mentah atau Matang- Pelaksanaan aqiqah adalah sunah yang sebaiknya segera dilaksanakan segera setelah bayi berusia 7 hari. Untuk pelaksanaannya, bagi bayi laki-laki adalah memotong kambing sebanyak 2 ekor sedangkan bagi bayi perempuan adalah 1 ekor kambing. Lalu dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Namun apakah daging ini harus  dibagikan secara mentah atau harus dimasak dulu?

Aqiqah Dengan Daging Mentah atau Matang

Sunnahnya Memasak Daging Aqiqah

Berkenaan dengan daging aqiqah, apakah bisa daging aqiqah tidak harus dimasak ketika dibagikan ke orang lain. Dalam hal ini jumhrur ulama berpendapat, sunnah hukumnya bagi seseorang yang melaksanakan aqiqah anaknya untuk memasak daging kambing aqiqah tersebut sebelum dibagikan ke orang.  Jadi ada baiknya kita memasak daging kambing aqiqah itu terlebih dahulu, baru kita bagikan.

Karena pernyataan ini berdasarkan hadis dari Aisyah dimana Aisyah berkata; “sunnahnya menyembelih 2 ekor kambing (syat) itu atas anak laki-laki dan 1 ekor kambing atas anak perempuan, dan hendaklah kambing tadi dimasak terlebih dahulu tanpa dipotong atau dipecah tulangnya dan dagingnya dimakan dan dibagikan dan disedekahkan”.

Disini Aisyah mengatakan bagaimana pelaksanaan daging aqiqah yang baik, hendaklah daging tersebut dimasak terlebih dahulu, kemudian kita disisihkan untuk kita makan, dan untuk dibagikan ke orang lain.

Baca Juga:
Sudah Menikah Tapi Belum Aqiqah, Apa Hukumnya?

Maka terkait apakah daging kambing aqiqah boleh dibagikan secara mentah saja. Menurut Mahzab Hanfi boleh untuk membagikan daging kambing aqiqah dalam keadaan mentah. Dimasak terlebih dahulu itu hanya sunnah saja.  Bahkan dalam Mahzab Hanafi mengatakan sunahnya itu dua, pertama disunahkan untuk daging aqiqah itu dibagi maksudnya sebagian dibagikan dalam keadaan mentah dan sebagian dibagikan  dalam keadaan sudah dimasak.

Alangkah baiknya, memang daging dimasak terlebih dahulu. Sehingga para penerima makanan tinggal makan aja tanpa harus memikirikan lagi untuk mengolahnya. Namun bila kita tidak mau memasaknya karena ada alasan tertentu, maka di dalam Mahzab Hanafi hal ini dibolehkan saja.

Berapa Umur Kambing Aqiqah

Dalam pelaksanaan penyembelihan hewan untuk aqiqah atau qurban, salah satu syarat pertama yang harus dipenuhi adalah syarat umur, bukan hanya jenisnya dan fisiknya, tapi umurnya. Nabi berkata jangan menyembelih kecuali musinnah.

Dari Jabir RA, beliau berkata, Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kalian menyembelih hewan qurban, kecuali yang telah musinnah, terkecuali kalian sukar memperolehnya, maka sembelihlah domba yang jadza’ah.” (HR Muslim).

Musinnah artinya usia dewasa untuk disembelih, karena setiap hewan umurnya berbeda. Seperti musinnah sapi 2 tahun, kambing 1 tahun, kecuali  untuk domba bisa memakai yang jadza’ah (mendekati dewasa) yaitu umur 6 bulan – 1 tahun.
Mussinah sendiri berasal dari bahasa arab sinnun yang artinya gigi. Jadi setelah gigi dewasa hewan sudah keluar,  pertanda umur hewan tersebut sudah dewasa dan sudah layak potong untuk aqiqah / quban. Pertanda ini dapat dilihat dengan telah bergantinya gigi seri susu menjadi gigi permanen pada rahang bawah.

Memang sebaiknya kita bisa mengetahui langsung pencatatan kelahiran si hewan, namun masih banyak peternak tradisional tidak melakukan pencatatan kelahiran ini. Sehingga salah satu pembuktian umur mereka sudah musinnah adalah dengan melihat gigi seri bawah nya yang telah manjadi gigi tetap.
Atau secara kasat mata, gigi susu yang berukuran kecil sudah berganti menjadi gigi permanen  yang besar. Apabila anda tidak tahu cara membedakannya, maka bisa meminta bantuan kepada orang yang sudah berpengalaman mengenai hewan ternak.

Adakah Batasan Umur Untuk Aqiqah

Hadis nabi mengatakan bahwa setiap anak yang lahir dalam anak tergadaikan. Dan harus dilakukan aqiqah pada hari ke tujuh, digunduli kepalanya dan diberi nama.

Muncul juga hadis yang mengatakan, bila tidak mampu dihari ke 7 kelahiran bayi maka dapat melaksanakan aqiqah di hari ke 14 atau hari ke 21. Dan secara syariat, aqiqah itu hanya berlaku untuk orang tua.

Apa yang dimaksud dengan tergadaikan, maksudnya adalah bisa jadi doa anak tidak sampai, atau syafaat anak untuk orang tua boleh jadi tidak akan didapatkan disebabkan karena orang tuanya enggan untuk mengaqiqahi.

Dan hukum ini akan didapatkan bila: orangtua enggan mengaqiqahi walau sudah tahu hukumnya. Serta  mempunyai harta dan kemampuan untuk mengaqiqahi.

Apabila salah satu dari 2 hal ini tidak didapatkan, maka hukuman itu tidak akan dibebankan kepada orangtua.

Contohnya,  ada orangtua yang tahu hukum aqiqah tapi tidak mempunyai kemampuan ekonomi, maka gugurlah hukum aqiqah. Dan ada yang mempunyai harta tapi tidak mempunyai ilmu mengenai aqiqah maka gugur juga hukum aqiqah bagi orang tua tadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *