Aqiqah Bayi Laki-Laki Harus 2 Kambingkah ..?

Aqiqah Bayi Laki-Laki Harus 2 Kambingkah – Boleh ngak ya kita mengaqiqah bayi laki-laki dengan 1 ekor kambing aja, karena orang tuanya belum mempunyai biaya penuh. Apalagi kalo ada yang mempunyai anak laki-laki kembar, berarti kan mengharuskan menyembelih 4 ekor kambing.

Aqiqah Bayi Laki-Laki Harus 2 Kambingkah ..?

Menurut Imam An Nawawi  “Sunnah mengaqiqahi bayi laki-laki dengan 2 ekor kambing, adapun bayi perempuan membutuhkan 1 ekor kambing”
Imam An Nawawi juga berkata ”kalo seandainnya ada orang tua yang mempunyai anak laki-laki, namun dia hanya menyembelih 1 ekor kambing saja, maka ia sudah mendapatkan kesunahannya”. Jadi tidak apa-apa kalo kondisinya sangat darurat, dimana kedua orang tua baru bisa membeli 1 ekor kambing.

Namun berbeda ceritanya kalo orangtua punya harta yang berlebih, maka sunnah aqiqah untuk bayi laki-laki menggunakan 2 ekor kambing.

Baca Juga:
Aqiqah Atau Qurban Dulu .?

 

Imam Nawawi juga melanjutkan, kalo seandainya ada bayi kembar laki-laki dan hanya menyembelih 1 ekor kambing, maka ini yang tidak dibolehkan. Dan ini tidak mendapatkan kesunnahan.
Bila hanya untuk 1 bayi laki-laki menggunakan  1 ekor kambing, itu diperbolehkan. Tapi  kalo bayi kembar laki-laki, dan hanya menggunakan  1 ekor kambing, maka ini tidak dibolehkan.

Bahkan para ulama juga membolehkan, seandainya ada 7 bayi, ini juga boleh aqiqah dengan menyembelih 1 ekor hewan sapi. Karena seperti yang kita sudah kita ketahui, bahwa sapi bisa digunakan untuk 7 orang pengqurban.

Maka boleh menggunakan 1 ekor  sapi untuk mengaqiqah 7 anak bayi laki-laki.

Jadi kalo ditanya, apakah aqiqah bayi laki-laki harus 2 ekor kambing, tentu jawabannya tidak harus. Jumlah 2 ekor kambing ini adalah sebuah kesunahan yang dianjurkan  untuk bayi laki-laki. Namun bila orang tuanya tidak mampu, maka boleh aqiqah menggunakan 1 ekor kambing saja, dan ini sudah mendapatkan kesunnahan.

Sunnah Mencukur Rambut Bayi Baru Lahir

Banyak mungkin orang-orang yang bertanya, dalam pelaksanaan aqiqah dimana ada sesi cukur rambut. Apakah seluruh rambut bayi harus dicukur atau sebagian saja. Mungkin ada beberapa orang tua yang tidak rela, kalo melihat bayinya yang rupawan harus digunduli.

Namun memang sesuai dengan syariat, untuk sesi cukur rambut harus dicukur gundul. Memang begitulah aturan dalam pelaksanaan aqiqah, setelah hewan disembelih, memberi nama bayi dan  mencukur rambut bayi yang berat rambutnya akan disedekahkan seberat perak.

Ini adalah bagian dalam ritual keislaman, yang mana para ulama sepakat mengatakan bahwa  aqiqah hukumnya bukan wajib, tapi sunnah. Sebagaimana yang banyak di dalam hadis  nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Abu Daud, berkata ” Setiap anak yang lahir itu tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, disembelih kan hewan pada hari ke tujuh kelahirannya, diberi nama dan dicukur rambutnya dan disedekahkan”

Makna Anak Tergadai Dengan Aqiqah

Makna tergadai disini adalah bayi ini tidak akan bisa memberi syafaat kepada orang tua. Perlu diingat, tergadai disini bukan tergadai bahwa orang tua tidak akan masuk surga karena tidak mengaqiqah anaknya.

Dikalangan para ulama menyatakan  bahwa hukum aqiqah ini adalah sunnah. Tidak ada satupun ulama yang menyatakan ini wajib. Malah ada lagi ulama yang menyatakan hukumnya mubah.
Para ulama di kalangan Hanafi mengatakan hukumnya mubah. Mubah dalam arti kata: mau dikerjakan silahkan, tidak ada pahalnya dan mau tidak dikerjakan juga tidak apa apa karena tidak berdosa.

Kenapa bisa jadi mubah??
Dalam pendangan Ulama Mahzab Hanafi, menyembelih hewan aqiqah ini sudah ada sejak jaman jahiliyah.  Jauh sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi, tradisi memotong kambing ketika bayi lahir sudah lama ada.

Dan ketika di jaman Rasulullah di adaptasi dari yang membalurkan darah kambing ke kepala bayi menjadi membalur minyak wangian ke kepala bayi.
Maka Rasullullah hanya sekedar memberi takrir / ketetapan saja. Takrir disini maksudnya, mau dikerjakan boleh, tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. Makanya dari sudut padang itu, hukumnya menjadi mubah. Pendapat ini adalah menurut ulama Mahzab Hanafi.

Sedangkan menurut mahzab yang lain seperti Mahzab Syafi’i, Maliki dan Hambali.  Rata rata mengatakan, hukum aqiqah adalah sunnah. Sehingga bila ada rejeki, silahkan dilakukan aqiqah untuk bayinya.

Afdolnya Mencukur Rambut di Hari ke Tujuh

Dan kalo sunah yang kemungkinannya mendapatkan pahala yang banyak, dapat dilakukan sesuai dengan sunah nabi yaitu di lakukan di hari ke tujuh kelahiran bayi. Namun pelaksanaan di hari ke 7 ini adalah keutamaannnya saja, bukan menjadi syarat sah.
Dan kalo mau dilakukan di hari ke 14 atau hari 21, maka hal itu boleh-boleh saja. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, Bila seumur hidupnya pun atau ketika di masa tuanya pun boleh melakukan aqiqah, tentu dengan kondisi dimana dulu orang tuanya belum mengaqiqah dirinya di waktu kecil. Ada sebagian ulama yang membolehkan ini dan hanya berlaku untuk acara aqiqahnya, tidak memberi nama dan mencukur gundul rambut.

Afdolnya memang mencukur rambut itu di hari ke 7 kelahiran bayi,  mencukur rambut bayi sampai gundul habis. Apa rahasianya, sebab kalo anak sudah berumur  2 – 3 tahun, rambut tentu sudah panjang, dan ketika kita cukur habis rambutnya maka akan menjadi berat ketika di timbang. Sehingga sedekahnya menjadi kebanyakan. Karena itu mencukur di hari yang tujuh tentu lebih afdol, akrean rambut bayi belum tumbuh banyak.

Tapi kalo dilakukan tidak sesuai ketentuan di hari ke tujuh,  tidak mengapa juga. Toh semuanya tidak merupakan kewajiban, boleh dikerjakan dan dapat pahala banyak (kalo dilakukan di hari ke tujuh), dan tetap dapat pahala walau tidak di hari ke tujuh, dan tidak akan berdosa kalau tidak dikerjakan.

Dalam hal ini perkaranya sangat luas, para ulama tidak mewajibkan pelaksaaan aqiqah, hanya menyunahkan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *