Adakah Ayat Alquran Tentang Aqiqah?

Adakah ayat Alquran tentang aqiqah? Pertanyaan ini mungkin pernah hinggap di benak Anda, setelah letih mencari-carinya di dalam Al-Quran. Jawabannya bahwa tidak ada. Tidak terdapat satu ayatpun di dalam Alquran yang menyebutkan tentang aqiqah atau nasikah.

Meskipun tidak terdapat satupun ayat Alquran tentang aqiqah, bukan berarti tidak ada dalil sama sekali yang menunjukkan disyariatkannya aqiqah. Sebab, keterangan tentang aqiqah datang dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Di antara dalil aqiqah adalah apa yang disebutkan dalam hadits berikut :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى يومَ

“Setiap bayi yang baru lahir MURTAHANUN (tergadaikan) dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Para ulama menyebutkan bahwa makna ‘murtahanun’ dalam hadits di atas yaitu si anak kelak tidak bisa memberikan syafaat bagi kedua orang tua yang tidak mengaqiqahinya. Sebagian ulama lainnya menyebutkan bahwa maknanya adalah si anak tidak akan mendapatkan kelapangan dan ketenangan dalam jiwanya jika tidak diaqiqah.

Baca Juga : 5 Menu Makanan Acara Aqiqah

Dalil lain yang menyebutkan tentang aqiqah adalah hadits berikut ini :

مع الغلام عقيقته، فأهرقوا عنه دما، وأميطوا عنه الأذى

“Bersama bayi yang baru lahir terdapat aqiqahnya, maka alirkanlah darah untuknya (sembelihkan) dan hilangkan gangguan darinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar [1236] dan Al-Hakim [4/238]).

Selain kedua hadits di atas, tentu saja masih ada beberapa hadits lainnya yang menyebutkan tentang aqiqah. Oleh karena itu, meskipun tidak ada satupun ayat Alquran tentang aqiqah, tetapi hadits-hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menunjukkan disyariatkannya aqiqah.

Di dalam islam, sumber hukum bukan hanya Alquran saja, tetapi juga sunnah atau hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Siapa yang membedakan keduanya dari sisi hujjah atau pegangan dalam beragama, maka orang tersebut sesat.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

تركتُ فيكم أَمْرَيْنِ لن تَضِلُّوا ما تَمَسَّكْتُمْ بهما : كتابَ اللهِ وسُنَّةَ نبيِّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ

“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan sunnah Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa).

Bahkan Allah Azza Wajalla mewajibkan kita untuk mengembalikan segala perselisihan kepada Alquran dan sunnah. Allah Azza Wajalla berfirman :

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya…” (Surah An-Nisaa : 59).

Dalam kitab Syarh Ash-Shuduur disebutkan :

وهذا هو منهج كل من جاء بعد السلف الكرام من التابعين ومن تبعهم من علماء المسلمين وعامتهم وفي كتب شيخ الإسلام رحمه الله وتلميذه ابن القيم وغيرهما كالطبري وابن كثير وأهل الحديث كالشيخين وغيرهما ممن تزخر بأقوالهم المكتبات الإسلامية في كتبهم من الأقوال والشروحات ما لا مزيد عليه في وجوب التمسك بكتاب الله والعمل به والرجوع إليه.

وعلى هذا “فقد اتفق المسلمون سلفهم وخلفهم من عصر الصحابة إلى عصرنا هذا أن الواجب عند الاختلاف في أي أمر من أمور الدين بين الأئمة والمجتهدين هو الرد إلى كتاب الله تعالى وسنة نبيه عليه الصلاة والسلام الناطق بذلك الكتاب العزيز

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

ومعنى الرد إلى الله سبحانه الرد إلى كتابه ومعنى الرد إلى رسوله صلى الله عليه وسلم الرد إلى سنته بعد وفاته وهذا مما لا خلاف فيه بين جميع المسلمين

“Inilah manhaj (prinsip) setiap orang yang datang setelah para salaf dari kalangan tabi’in dan yang mengikuti mereka dari kalangan para ulama kaum muslimin dan kaum muslimin secara keseluruhan. Di dalam kitab-kitab Syaikhul Islam Rahimahullah dan muridnya yaitu Ibnul Qayyim dan selain keduanya seperti Ath-Thabary, Ibnu Katsir, serta ahli hadits seperti dua syaikh (Al-Bukhary dan Muslim) dan selain keduanya, dari orang-orang yang ucapan-ucapan mereka memenuhi perpustakaan-perpustakaan islam, di mana dalam kitab-kitab mereka terdapat ucapan-ucapan dan penjelasan-penjelasan yang tidak membutuhkan tambahan akan wajibnya berpegang teguh dengan kitab Allah, mengamalkannya, serta berpedoman kepadanya.

Oleh karena itu, kaum muslimin baik generasi terdahulu maupun belakangan, dari orang-orang yang satu zaman dengan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hingga zaman kita ini, semuanya bersepakat bahwa yang wajib ketika terjadi perselisihan dalam perkara apapun dari perkara-perkara agama yang terjadi di antara para ulama dan ahli ijtihad untuk kembali kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran ‘Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya…’ (Surah An-Nisaa : 59).

Makna kembalikan kepada Allah yaitu mengembalikan kepada kitab-Nya (Alquran), dan makna kembalikan kepada Rasul-Nya yaitu mengembalikan kepada sunnahnya setelah beliau wafat. Ini termasuk prinsip yang tidak diperselisihkan di antara kaum muslimin.” (Lihat Kitab Syarh Ash-Shuduur Bi Tahriimi Raf’il Qubuur hal.596).

Jadi kesimpulannya, sama sekali tidak ada satupun ayat Alquran tentang aqiqah, akan tetapi dalil disyariatkannya aqiqah datang dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Bagi kaum muslimin, hal tersebut sudah mencukupi. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *